Desember 2020

Desember suka bersolek. Hari ini baru awalnya dan sepanjang hari langit biru cerah, awan putih bertebaran, ditemani angin yang meniup-niup pepohonan dengan usil. Mengundang kantuk dan khayalan di siang bolong. Mereka seakan ingin memberi kesan terakhir yang manis di penghujung tahun. Mungkin sebagai sedikit penawar untuk tahun yang durjana ini. Walaupun sudah lama aku perhatikan bahwa akhir tahun punya cuaca yang spesial sekaligus tidak bisa ditebak. Terkadang cerah dan membuatmu seakan merasa bisa menaklukan semua tantangan di hari itu. Lalu tiba-tiba mengguyurkan hujan supaya bisa menertawakanmu yang masih saja lalai membawa payung, lalu mengeluh karena tidak membawa payung ketika kehujanan, padahal tinggal di negara yang hanya punya dua musim.

Karena banyaknya hal yang terjadi di tahun ini dan membuatku jeri, hampir aku melewatkan momen ini; melihat ke atas sampai leher dan mataku protes karena menatap langit dari sudut yang tidak normal. Yang melihat pun mungkin mafhum dan berteori sendiri tentang seorang gadis yang berjalan sambil sibuk melihat ke atas. Biar saja. Tahu apa mereka soal mencoba mengabadikan semua ini dengan lensa kamera dan tidak mendapatkan hasil yang keindahannya mendekati aslinya? 

Banyak yang terjadi dan banyak yang berubah. Baru aku sadari pohon rindang yang aku tak tahu namanya itu terlambat berbunga. Aku tunggu mereka setiap tahun dan biasanya mereka sudah pamer keindahan bunga merahnya di awal November. Kali ini terlambat, tapi sama indahnya. Mereka seolah mengatakan aku tak berhak menuntut. Aku hanya perlu menunggu dengan sabar dan menikmatinya saat waktunya tiba. 

Dan memang, menunggu pohon rindang itu berbunga merah aku sanggup. Lain halnya jika aku harus menunggumu menetapkan hati. Hanya gundah dan gusar yang aku rasa, bertambah tiap harinya, tidak pernah benar-benar pergi, walau hari sudah berganti lagi, dan kita semakin dekat ke penghujung waktu. Mungkin kau juga merasa aku tak berhak menuntut. Tahu apa seseorang seperti aku tentang beratnya jalan hidupmu itu?

Mungkin memang harus berakhir seperti ini. Terima kasih pernah hadir dalam keseharianku. Walau singkat, tapi membuatku belajar dan sadar; aku layak diperlakukan lebih baik dari ini.

Ditulis 1 Desember 2020, kecuali paragraf terakhir.

Leave a reply