via Collider.com

Night Watch: Juli – September 2020

Hai, semuanya, siapa pun yang baca dan di mana pun kalian berada. Apakah kalian juga lagi WFH jilid 2 atau sejak Maret lalu emang WFH terus? Di kantor saya udah sempat masuk seperti normal di awal Juni dan akhirnya WFH lagi mengikuti peraturan PSBB di Jakarta. Apakah dengan kerja di rumah saya jadi punya lebih banyak waktu untuk nonton? Nggak juga… 

Saya udah catetin judul-judulnya supaya nggak lupa, eh pas banget di hari Minggu yang senggang ini ternyata udah hampir akhir bulan. Jadi, di Night Watch kali ini, saya mau bahas apa aja yang saya tonton sejak Juli sampai September ini. Mari… 

Community

I may have a crush on Donald Glover. Menurut saya keren aja nih orang. Terutama karena dia penulis juga. Dia nulis naskah, akting juga, nyanyi juga, produser juga, sutradara juga. Paket lengkap banget lah. Dan saya yakin kalian juga udah sering banget lihat tampangnya di berbagai GIF. Nah, sebelum nonton Community pun saya tahu kalau segala GIF itu berasal dari berbagai adegan sitkom ini. Terus saya lihat tweet salah satu teman bahwa Community ada di Netflix. Wohhh! Sebelumnya nggak pernah coba cari sih hahaha. Jadilah saya mulai nonton dan langsung menjadi favorit, mungkin setara dengan rasa cinta saya pada Brooklyn Nine-Nine. Dari 6 season, saya baru sampai season 3 karena nontonnya hemat-hemat, nggak mau cepat habis hahaha. Agak sebel sama Pierce, tapi di akhir episode biasanya akhirnya dia melakukan hal yang benar jadi berkurang lagi sebelnya, gitu aja terus. Yang pasti saya sayang banget sama Troy dan Abed. Sampai ikutan sedih kalau mereka berantem tuh. TROY AND ABED IN THE MORNING~ 

Endings, Beginnings

Woiya jelas nonton ini karena mau lihat Sebastian Stan. Mengingatkan sama filmnya Drake Doremus sebelumnya Equals (nonton itu juga karena Kristen Stewart yang main bareng Nicholas Hoult), filmnya emang slow. Dan berhubung waktu nonton juga digangguin sama cowok brewokan yang satu lagi, jadi skip di banyak bagian. Tapi karena film ini jadi suka lagu “Mecca” dari Wild Beasts.

Unsolved Mysteries

I’m back on my documentaries game, baby! Setelah sekian lama, akhirnya saya nonton dokumenter lagi berkat dirilisnya dokumenter ini di Netflix. Semenjak nonton karyanya Davic Fincher, saya jadi lumayan suka thriller dan belakangan juga suka ngikutin kisah true crimes. Emang sih seringnya mengelus dada sambil istighfar kalau nonton true crimes tuh, tapi seru ngikutin kisahnya sampai pelakunya dapat ganjarannya. 

Nah, sesuai judulnya, yang satu ini benar-benar membahas kasus-kasus yang belum terpecahkan. Bukan kasus pembunuhan dan orang hilang aja nih. Salah satu episode membahas fenomena UFO di sebuah kota yang sumpah absurd banget, tapi saksinya banyak. Malah ada yang mengaku sampai ‘diangkut’ ke UFO-nya. Tapi tetep yang paling merinding sih kayaknya kasus di Prancis. Satu keluarga (beserta anjing peliharaan mereka) dibunuh dan dikubur di taman rumah mereka sendiri. Tersangka utamanya adalah sang kepala keluarga yang sejak saat itu nggak diketahui keberadaannya, cuma sempat nulis surat yang berisi pengakuan bahwa dia adalah agen rahasia?? 

Dulu rupanya Unsolved Mysteries tayang di TV di tahun 80-an. Unsolved Mysteries yang tayang di Netflix ini juga mengusung konsep yang sama, cuma bedanya nggak pakai host. Jadi, kayak nonton dokumenter pada umumnya aja, satu episode membahas satu kasus. Sejak tayang, udah cukup banyak kasus yang akhirnya terpecahkan. Di season baru ini, ada website khusus yang bisa dikunjungi untuk orang-orang yang mungkin punya informasi apapun terkait kasusnya. Salah satu kasus yang ada perkembangan berarti adalah kasusnya Alonzo Brooks, yang dibuka dan diinvestigasi lebih lanjut karena kemungkinan kasus ini adalah hate crime.

Jeffrey Eipstein: Filthy Rich

Saya cukup ngikutin berita soal Weinstein dari awal berhembus, makin banyak diberitakan, gerakan #MeToo, sampai dia diadili. Nggak lama kemudian kasus Epstein ini ada di hampir setiap website berita, tapi entah kenapa saat itu saya nggak baca lebih jauh. Tapi dari segelintir headlines yang saja baca saya tahu kalau ini orang sama aja brengseknya. Begitu baca berita lagi loh tau-tau dia ditemukan tewas bunuh diri di sel penjaranya. Singkat cerita, saya jadi penasaran dengan kisahnya begitu lihat dokumenter ini di Netflix. 

I love a good pun, so good job to whoever it was responsible for the title. Si Epstein ini orang tajir melintir, tapi nggak terlalu jelas juga sumber kekayaannya dari mana. Lumayan cakep, tajir, dan saat itu diketahui pacaran sama seorang sosialita Inggris, Ghislaine Maxwell. Tapi ternyata eh ternyata, mereka berdua ini kongkalikong, mencari remaja di bawah umur untuk jadi pelampiasan hasrat seksualnya Epstein dan orang-orang penting di sekitarnya. Udah kayak MLM tapi di bidang prostitusi anak di bawah umur. Parah banget. Curiga sih dia sebenarnya ‘dihabisi’ supaya nama orang penting yang terlibat nggak akan terseret. Ghislaine Maxwell sendiri udah tertangkap juga setelah bertahun-tahun nggak muncul di publik dan nggak jelas keberadaannya. Salut juga sih, orang kayak dia bisa menghilangkan jejak di era modern kayak gini. Well, I guess it’s possible if you’re that… (wait for it) filthy rich.

The Umbrella Academy Season 2

Season 2 ini seru. Yang nggak seru itu rambutnya Diego. Ya agak susah sih jelasinnya, yang pasti kali ini mereka kembali ke masa lalu, tapi terpencar karena tiba di tahun yang berbeda-beda. Dan sekali lagi mereka mencoba mencegah apocalypse. Adegan pembukanya keren banget euy. Sementara ending-nya ya ngerti sih sengaja bakalan dibikin gantung, tapi tetep aja membuat saya berkata, “Yaelaaah.”

I’ll Be Gone in the Dark

Perhatian untuk yang suka true crime, dokumenter ini BAGUS BANGET. I feel like I can talk about this one in a whole new post. Duh, mulai dari mana ya… Oke, pernah dengar tentang beberapa serial killer terkenal di AS sana kayak Zodiac (yang sampai sekarang juga belum tertangkap), BTK Killer, Son of Sam? Pemerkosa berantai yang akhirnya juga jadi pembunuh berantai yang satu ini sama aja busuknya, tapi gaung namanya nggak seperti serial killer lain. Padahal dia juga beraksi di sekitaran waktu yang sama, tahun 70 sampai menjelang akhir 80-an.

Penulis Michelle McNamara yang emang tertarik banget sama true crime akhirnya menelisik kasusnya lebih jauh sampai terobsesi. Bahkan, dia juga yang mulai memakai sebutan Golden State Killer setelah sebelumnya pelaku disebut dengan berbagai nama. Michelle sampai ditawari untuk nulis buku yang akhirnya diadaptasi jadi dokumenter ini dengan judul yang sama. Yang menarik, dalam proses wawancara Michelle nih kayaknya bisa engage dengan baik sama orang yang diwawancaranya. Dia bahkan jadi temenan sama orang-orang yang juga ikut nyelidikin kasus ini kayak investigator dan detektif lainnya. Sayangnya, Michelle meninggal dunia bahkan sebelum bukunya rilis. Teman penulis dan rekan investigasinya yang akhirnya menyelesaikan buku ini dan lanjutin investigasi.

Nah, saya sebenarnya ingat pernah lihat di headline berita kalau si Golden State Killer udah tertangkap. Salah satunya berkat teknologi DNA terbaru yang kabarnya sih bisa ikut menguak kasus-kasus lama. Kurang lebih seperti kata Michelle, senang rasanya lihat perkembangan teknologi untuk hal-hal yang bisa membantu umat manusia. Yaaa kayak mengungkap kasus kayak gini. Tapi, walaupun kalian udah tahu ending-nya, dokumenter ini tetap menarik untuk ditonton. Dibawa emosi dengan wawancara para korban, gregetan, dan ikut bahagia kasusnya bisa terpecahkan. 

Love, Guaranteed

It was that time of the month, so I needed my monthly dose of rom-com. Inget banget sama Rachael Leigh Cook dari film romcom She’s All That. Dan masih awet muda aja gitu mbaknyaaa… Film ini berkisah tentang seorang pengacara muda yang idealis yang akhirnya menerima klien yang mau menggugat sebuah dating app. Dilihat dari trailer juga bisa ketebak lah bakalan kayak gimana ceritanya hahaha. But I feel you, Nick Evans. Pernah coba pakai dating app dan nggak tahan dengan semua proses perkenalan, tarik-ulur, dan penolakan atau segala macam ghosting-nya. Hehe.

The Half of It

Masih romcom nih, gaes. Hehe. Tapi yang ini agak nggak disangka bakalan segitu sweet sih. Jadi seorang cowok minta bantuan teman sekolahnya untuk bikinin surat cinta karena nih anak udah biasa jualin tulisan dia buat dapat uang tambahan gitu. Eeeh terus malah dia ikutan naksir sama crush si sahabatnya yang emang cute banget sih. Tapi persahabatan yang terjalin tuh manis banget dan walau film kayak gini jarang happy ending, tetap berasa hangat gitu nontonnya. Ngerti kan maksud saya??

The Devil all the Time

Gila banget cast-nya aktor-aktor terkenal semuaaa. Termasuk Sebastian Stan. Hehe #teteup. Jadi yah, di film ini orang-orang yang percaya sama Tuhan malah kelakuannya bikin geleng-geleng kepala. Tinggal Tom Holland yang akhirnya bertindak walau tindakannya nggak sepenuhnya benar semua sih. Filmnya grim, nggak ada senyum-senyumnya. Eh ya terus saya gregetan karena karena karakter-karakter wanitanya mati tragis semua sih.

Enola Holmes

Kayaknya pernah nulis artikelnya waktu pertama kali diberitain kalau Millie Bobby Brown akan jadi Enola sekaligus jadi produser di film Netflix ini. Dengan Sam Clafflin sebagai Mycroft dan Henry Cavill sebagai Sherlock. Walau ‘meminjam’ karakter dan setting canon dari kisah Sherlock Holmes, karakter Enola adalah karya Nancy Springer yang udah jadi seri buku laris untuk young adult. Cocok nih ditonton bareng keluarga. PG 13 sih soalnya adegan aksinya lumayan sangar sih.

Btw, masih ada hubungannya sama Sherlock. Saya pernah bahas tentang Miss Sherlock di blog lama. Nonton episode awal nggak begitu suka karena kok kayaknya ngikutin Sherlock versi Benedict Cumberbatch banget. Tapi lama-lama seru dan duo Sherlock dan Wato nih menggemaskan juga. Terus Yuko Takeuchi si pemeran Sherlock agak mengingatkan sama Tegan Quin. Dan tadi sore lihat berita yang di tweet sama sepupu saya, Yuko ditemukan tewas dan diduga bunuh diri. Duh. Walau cuma pernah lihat aktingnya di Miss Sherlock langsung ikutan sedih.

I don’t know if these words will help. But I’m going to say it anyway. Stay safe, look out, and reach out for each other in this uncertain time, friends.

2 Responses

Leave a reply