Review Asal: Reuni Harry Potter ⚡

Jujur, waktu pertama denger kalau HBO mau bikin reunian Harry Potter reaksi saya adalah misuh-misuh di Instagram Story hahahaha. Karena awalnya nggak habis pikir aja gitu. Ngapain sih reunian, perasaan belum lama-lama banget deh. Dan mungkin karena info awalnya belum begitu jelas kan, jadi ngebayangin kalau reuniannya dalam bentuk film. Tambah males donggg ngebayangin mereka semua ‘maksa’ balik lagi ke Hogwarts, udah nggak cucok lagi sama karakternya, dan mau ambil cerita yang mana juga? Harry ngambil legalisir ijazah seperti kata netijen?

Terus Friends: The Reunion rilis. Saya nggak nonton sih, tapi terus ngerti kalau ternyata format reunian Harry Potter bakalan kayak gitu. Terus trailer-nya rilis dan langsung hilang suudzon saya hahahaha. This could be good! Udah gitu rilisnya awal Januari banget, jadi saya anggap sebagai kado ulang tahun. Makasih, HBO.

Ternyata saya nggak sempet nonton di akhir pekan tahun baru waktu baru banget rilis. Jadi, akhirnya saya menyempatkan diri nonton setelah pulang kerja di hari Senin. Ini dia review asal Harry Potter 20th Anniversary: Return to Hogwarts

Foto: IMDb

Hampir semua cast ikutan

Selain the Golden Trio, hampir semua cast yang kita ingat ikutan di dokumenter ini. Sedih deh kalau ingat kalau beberapa pemeran udah nggak ada, terutama Alan Rickman. Absurd banget ngeliat Helena Bonham Carter sebagai dirinya sendiri yang sangat ceria, manggil Dan pakai ‘sayang’ di set syuting Harry Potter. Hahahaha. Lebih absurd lagi waktu Helena ngobrol sama Gary ketawa-ketawa bahas hubungannya Bellatrix dan Sirius. Nggak tau dia saya patah hati banget pas Sirius tewas. Manis banget lihat interaksinya Gary dan Dan sebagai diri mereka sendiri dan sebagai Sirius dan Harry. Terus mereka ngomongin Alan Rickman. Duh…

Oh, sayang banget David Thewlis alias Lupin nggak ikutan (dan dia malah bercandain absennya dia di caption Instagram-nya). Porsi wawancara, tanya jawab, atau komentarnya pun dikit-dikit. Karena durasi juga sih.

Hei, hei, siapa diaaa… Foto: IMDb

Dokumenter ini dibagi ke dalam beberapa chapter. Jadi misalnya chapter pertama bahas film pertama dan kedua, para pemerannya dan sutradara filmnya muncul, cerita, atau saling tanya. Makanya menurut saya nggak cukup banget sih bahas 8 film Harry Potter dalam dokumenter yang durasinya cuma 1 jam 42 menit. Kalau kalian Potterheads garis keras, pasti udah tahu hampir semua fun fact dan trivia seputar Harry Potter yang dibahas di sini. Yang baru saya tahu adalah ceritanya Jason Isaacs bahwa awalnya dia ikutan audisi untuk peran Gilderoy Lockhart. Begitu tahu dia nggak dapet dan diminta coba audisi untuk peran lain, dia agak bete dan malah makin meyakinkan untuk jadi Lucius Malfoy.

Deras dengan nostalgia

Nggak nyangka kan udah 20 tahun sejak film pertama Harry Potter rilis. Waktu itu baru kelas 6 SD dan akhirnya ngikutin filmnya. Berkat Harry Potter juga saya jadi suka baca. Kayaknya salah satu buku paling tebal yang saya baca ya buku Harry Potter. Order of the Phoenix edisi bahasa Indonesianya itu 1.200 halaman coyyy dan saya lahap habis kurang dari seminggu. Maklum kan, dulu bacanya setelah pulang sekolah, PR dan kerjaan rumah beres, supaya nggak diomelin Mama karena meringkuk dan baca terooos. Hahaha. Seri Harry Potter juga yang bikin saya jadi doyan baca. Makanya walau suka komen aneh-aneh dan mengubah cerita yang udah canon, saya tetap menaruh respect dan terima kasih sama Jo Rowling.

Nostalgia parah waktu ada footage anak-anak, remaja, sampai dewasa antre di toko buku waktu bukunya rilis. Dulu saya nggak sampai ikutan beli tengah malam sih, tapi untuk buku yang terakhir akhirnya saya boleh langsung beli besoknya dan itu berharga banget!! Jadi dulu tuh biasanya yang dirilis duluan adalah yang hardcover yang harganya lebih mahal, sementara yang softcover baru rilis beberapa minggu setelahnya. Dulu sih nggak ngerti dari segi kualitasnya, lebih ke harus-segera-baca-sekarang. Mama diam-diam udah pre-order bukunya sebagai hadiah ulang tahun karena rilis di Januari 2008, jadi saya tinggal bawa kuitansinya dan bawa pulang bukunya. Saya masih ingat rasa senang dan nggak sabarnya. Saya ke Gramed di mall dekat rumah cuma mau ambil buku, terus langsung pulang lagi, nggak sabar mau langsung baca di rumah. Kalau ada Pensieve beneran, memori ini pasti udah saya simpan di sana.

Dan saya akan selalu terharu kalau lihat gambar kastil Hogwarts, apalagi pas di film Sorcerer’s Stone waktu pertama kali kita melihat penampakannya. Begitu muncul shot sperti itu lagi film-film selanjutnya, rasanya kayak pulang ke tempat yang familiar dan hangat. Kalau saya pikir-pikir lagi, mungkin ada kaitannya dengan memori saya sendiri. Kenapa terasa seperti pulang dan hangat, ya karena rasanya seperti balik ke masa kecil, waktu hidup belum serumit sekarang. Setuju?

Dramione is real

Okay, hear me out. Dari duluuu juga emang ada rumor kan kalau Emma Watson dan Tom Felton pacaran, tapi dulu saya nggak ngerti kenapa orang-orang heboh shipping Draco dan Hermione. Soalnya dulu saya masih polos dan belum pernah baca AU sama sekali aja sih. HAHAHA. Ron dan Hermione udah soulmate banget, tapi setelah dilihat-lihat lagi, emang kayaknya seru yah kalau Draco jatuh cintanya sama Hermione. Tapi ternyata Emma dan Tom di dunia nyata emang beneran sedeket itu dan chemistry-nya kuat banget, cuma nggak dalam hubungan romantis aja. Sweet banget.

And now some critics. Sebenarnya sebagai dokumenter, Returns to Hogwarts biasa aja. Nggak menyeluruh banget dan udah banyak banget yang kita tahu juga. Subtitle-nya banyak yang typo yaaah. Nggak inget semuanya sih, tapi kayaknya lebih ke nama aja. Kayak Cho, tau-tau terjemahannya jadi Jo. Mungkin juga pas nonton lagi udah diperbaikin. Yang lebih kocak adalah filmnya salah masukin foto kecilnya Emma Watson, yang dimasukin malah fotonya Emma Roberts. Pantesan pas lihat fotonya kok kayak ada yang aneh ya, Emma bocah kok beda banget mukanya. Ternyataaa… dan tentunya, hal ini dibahas sama Emma Watson dengan elegan di Instagram-nya.

Tapi ya, sebenarnya ini lebih ke nostalgia dan merayakan kebersamaan kita waktu sama-sama tergila-gila Harry Potter. Sampai sekarang. Saya nangis banget sih di awal dan akhir, waktu dokumenternya ditutup dengan adegan Snape.

Leave a reply